Writer Librarian

Pustakawan dan Pelaku Usaha

Writer Librarian

Menyingkat Alamat Website dengan URL Shortener

Gerakan Literasi Mencerdaskan Negeri

Dari Jogja untuk Nusantara. Kitab Sakti bagi setiap penggerak literasi di Indonesia

Buku Pustakawan dan Media Massa: dari Interaksi ke Dokumentasi

Buku ini berisi kumpulan opini yang sudah diterbitkan di media massa (surat kabar). Berisi tentang Budaya Baca, Perpustakaan, Pendidikan, Sosial, dan Teknologi.

Bedah Buku Perpustakaan

Bedah Buku Capacity Building Perpustakaan karya Muhsin Kalida, 12 Desember 2015

Thursday, January 3, 2013

Belajar dari Sosok Epistoholik


MEREKA adalah para penulis, tetapi bukan demi tujuan eksis maupun narsis, tidak ingin tenar, apalagi terkenal. Juga bukan karena bayaran, alias “malaikatan”. Mereka hanya menyuarakan isi hati. Ya, mereka adalah para komunitas epistoholic.

Mungkin di antara kita masih ada yang belum mengenal istilah tersebut. Epistoholic adalah sebutan bagi orang yang kecanduan menulis di  kolom surat pembaca. Di Indonesia, komunitas epistoholic ini didirikan oleh Bambang Haryanto pada 2003. Hingga sekarang, komunitas Epistoholic Indonesia (EI) tersebar di beberapa kota; Bandung, Batang, Bojonegoro, Jatisrono, Jombang, Kaliurang, Karanganyar, Kendal, Magelang, Malang, Purwodadi, Salatiga, Semarang, Solo, Sragen, Yogyakarta, Wonogiri. Bahkan, Melbourne, Australia, menjadi salah satu markas EI.

Pada dasarnya, menulis adalah salah satu tradisi ilmiah bagi civitas akademik. Ironinya, hingga sekarang, mahasiswa yang dianggap sebagai agen perubahan, masih terhitung minim dalam bidang tulis menulis di media masa. Jika dicermati lebih jauh, banyak sekali media yang menyediakan kolom-kolom khusus bagi mahasiswa. Kalaupun ada yang belum percaya diri (PD), kolom surat pembaca bisa menjadi alternatifnya.

Mengapa surat pembaca? Ya, surat pembaca adalah salah satu kolom di media masa tempat setiap lapisan masyarakat bebas menuliskan dan menyampaikan unek-uneknya ke hadapan publik, mulai dari petani hingga profesor sekali pun.

Disadari atau tidak, keberadaan kolom surat pembaca mempunyai manfaat yang sangat besar bagi perubahan. Sebagaimana yang ditulis oleh Bambang Haryanto (2006), menurut Emanuel Rosen dalam bukunya The Anatomy of Buzz, mengutip hasil penelitian lembaga riset Roper Starch sejak tahun 1940-an, bahwa para penulis surat pembaca di AS tergolong sebagai the influential Americans, orang-orang Amerika yang berpengaruh (lihat di: http://episto.blogspot.com/).

Sebagai agen perubahan, tentu kita harus mampu menangkap sinyal positif keberadaan kolom surat pembaca. Di antaranya demi kemajuan bangsa, misalnya sebagai media publikasi, ataupun kritik sosial yang membangun. Sayangnya, hingga kini, masih belum banyak mahasiswa yang mau memanfaatkan kolom Surat pembaca ini. Entah mengapa, apakah karena tidak ada rewardnya, atau merasa remeh jika ada yang bilang, “Ah cemen, bisanya cuma menulis di kolom surat pembaca!” Padahal, keberadaan kolom surat pembaca bisa menjadi media efektif untuk berkontribusi, memberi pencerahan kepada publik demi sebuah perubahan yang nyata.

Pepatah Malaysia mengatakan bahwa perilaku ayam lebih baik dibanding perilaku penyu. Pepatah negeri jiran itu berbunyi, "Jangan jadi penyu yang bertelur ribuan butir tetapi senyap-senyap, melainkan jadilah ayam, hanya bertelur sebutir tetapi riuhnya sekampung.” Pepatah tersebut mengindikasikan bahwa sekecil dan sesederhana apa pun ide kita, sudah seharusnya kita suarakan melalui media. Sebesar dan sebagus apa pun ide kita, selama tidak dituangkan dan disuarakan melalui media, ide tersebut hanyalah pepesan kosong belaka.

Keberadaan kaum epistoholic tentu menjadi inspirasi tersendiri bagi kita. Mereka mengajarkan kepada kita bahwa menulis bukan selalu agar tenar dan terkenal. Menulis adalah panggilan hati untuk menuangkan pikiran dan gagasan demi sebuah perubahan. Mahasiswa, menulislah!

Dimuat di situs Okezone.com 27 November 2012

Mendambakan Gerakan ’’Pati Membaca’’

Selama ini ada anggapan bahwa kemajuan suatu wilayah dapat dilihat dari sejauh mana kualitas perpustakaannya. Keberadaan perpustakaan juga diyakini mampu memberi perubahan positif terhadap kemajuan suatu wilayah.
Tidak heran rasanya jika di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, memberi prioritas lebih terhadap perpustakaan. Bahkan di setiap sudut kota banyak ditemui perpustakaan dengan beragam nama, mulai Sudut Baca (reading corner), Pondok Baca, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Kafe Buku, Perpustakaan Masyarakat, dan sebagainya.
Berdasarkan data dari Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah (www.arpusda.jatengprov.go.id), di Pati terdapat 1.130 perpustakaan yang terdiri atas 385 perpustakaan SD/MI, 335 perpustakaan desa/kelurahan, 198 perpustakaan SMP/MTs, 160 perpustakaan SMA/MA, 20 perpustakaan masjid, 10 perpustakaan khusus instansi, 7 Taman Bacaan Masyarakat (TBM), 6 perpustakaan perguruan tinggi (PT), 4 perpustakaan pondok pesantren (Ponpes), 3 perpustakaan gereja, 2 perpustakaan vihara.
Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Pati yang kurang lebih 1.256.182 (www.patikab. go.id), maka satu perpustakaan diperuntukan bagi sekitar 1.110 orang.
Sayangnya dari 1.130 perpustakaan yang ada, hanya sekitar 367 yang merupakan perpustakaan umum yang bisa diakses secara bebas oleh masyarakat.
Sedangkan 763 lainnya adalah perpustakaan instansi, sekolah dan perguruan tinggi yang hanya bisa diakses oleh kalangan tertentu saja. Itu pun dengan catatan semua perpustakaan yang ada betul-betul berjalan, bukan sekedar aksesoris belaka yang dibiarkan tanpa ada kegiatan. Jika dilihat lebih dalam sejauh mana kegiatan yang ada dan kualitasnya seperti apa, pasti jumlah tersebut akan menyusut. Jumlah tersebut tentu bukanlah ukuran yang ideal dan patut untuk direnungi bersama.
Sebagai warga Pati, saya mendambakan menjamurnya perpustakaan yang berfungsi sebagai ruang baca publik. Baik di tingkat kecamatan atau desa, jika perlu dalam satu RT terdapat satu perpustakaan.
Tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Upaya yang sinergis antara seluruh lapisan masyarakat dengan pemerintah sangat dibutuhkan untuk merealisasikan langkah tersebut.
Salah satu upaya memasyarakatkan perpustakaan dan me-numbuhkan minat baca adalah dengan adanya gerakan membaca. Gerakan mengajak warga untuk membaca serta memberi pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya membaca itu sendiri. Gerakan membaca tidak harus turun ke jalan. Kegiatan ini bisa dimulai dari tingkat keluarga, RT, desa maupun kecamatan.
Selama ini ketika mendengarkan kata perpustakaan bayangan kita masih tertuju pada sebuah ruangan yang berisi sekumpulan buku yang ditata di dalam rak. Padahal gambaran perpustakaan tidaklah sesempit itu.
Perpustakaan bisa didirikan di mana saja. Mulai mal hingga gardu ronda di setiap desa. Jika perlu, perpustakaan ada di setiap rumah warga.
Di era modern seperti ini, perpustakaan punya peran yang strategis dalam meningkatkan kualitas intelektual warga masyarakat. Berfungsi sebagai sumber dan sarana pembelajaran yang efektif untuk menambah wawasan dan pengetahuan dengan ragam bacaan yang ada. Tersedianya beragam bacaan di perpustakaan, memungkinkan setiap orang memilih bahan bacaan yang sesuai dengan minat, hobi dan kebutuhan mereka tanpa terkendala oleh waktu.
Pada dasarnya, fungsi perpustakaan tidak sebatas fasilitas baca, tetapi juga sebagai wahana rekreasi. Di dalam perpustakaan terdapat wahana imajinasi yang tidak akan kita dapatkan di tempat wisata.
Selain itu, ada banyak hal yang bisa dilaksanakan di perpustakaan, mulai kegiatan entrepreneur, creative writing, serta pelestarian kesenian lokal.
Pemahaman seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap pengelola. Perpustakaan tidak sekedar bangunan statis yang tidak bergerak, melainkan sebuah orga-nisme yang terus bergerak dan berkembang menyesuaikan dengan zaman.
Peran pemerintah pun sangat diperlukan untuk menumbuhkan minat baca masyarakat. Misalnya dengan menyediakan tambahan fasilitas perpustakaan keliling yang memungkinkan dijangkau oleh warga desa, baik berupa motor pintar maupun mobil pintar. Bila perlu, pemerintah bisa membuat aturan khusus tentang adanya jam baca masyarakat (JBM) demi mewujudkkan kondisi masyarakat yang mempunyai budaya baca.
Nantinya, dengan adanya upaya seperti ini warga Pati bisa menjadi warga yang berwawasan, bermoral dan lebih maju. Tentunya dengan mengusung semangat gemar membaca. Semoga.


Dimuat di kolom Surat Pembaca, Suara Merdeka, 26 Desember 2012

Tuesday, January 1, 2013

SOEKARNO DAN TRADISI INTELEKTUAL


Bulan Juni disebut sebagai bulan Soekarno. Pasalnya, pada bulan ini terdapat hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Diantaranya, pada tanggal 6  Juni 1901, presiden RI yang pertama, Soekarno, dilahirkan di lawang Seketeng, Surabaya. Kemudian pada 1 Juni 1945, Soekarno melahirkan istilah Pancasila yang kemudian menjadi dasar negara Indonesia. Masih pada bulan yang sama, 21 Juni 1970, Soekarno akhirnya meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Dari serangkaian peristiwa bersejarah tersebut, tidak heran jika bulan Juni disebut-sebut sebagai bulan Soekarno.
Soekarno adalah seorang legenda yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Nama Soekarno tidak hanya dikenal di dalam negeri saja, bahkan bangsa Barat pun mengakuinya sebagai pemimpin yang konsisten terhadap perjuangan anti-kapitalisme dan anti-kolonialisme. Ia dikenal sebagai Bapak proklamator sekaligus menjadi Bapak Bangsa (Founding Fathers) yang banyak berperan dalam proses kemerdekaan RI. Ia juga dikenal sebagai seorang ideolog dan orator ulung yang karismatik, berwibawa dan dicintai rakyat.
Sebagai figur yang sangat berpengaruh, ada banyak pelajaran penting yang bisa kita ambil sosok Soekarno. Disadari atau tidak, keberhasilan Soekarno sebagai pemimpin tidak bisa dilepaskan dari semangat belajar yang tinggi. Soekarno adalah sosok yang mempunyai tradisi intelektual yang kuat. Ia adalah seorang ‘kutu buku’. Pada saat kuliah di Technische Hoge school (sekarang ITB), Soekarno tidak mau dibatasi oleh dinding-dinding ruangan kelas untuk terus belajar. Ia terus belajar dengan melahap berbagai buku, Sosial, ekonomi dan politik yang ada di perpustakaan.
Beberapa buku yang mempengaruhi pemikiran Soekarno adalah karya karya Sun Yat Sen yang berjudul San Min Chu-I, serta buku-buku karya Karl Marx dan Thomas Jefferson. Selain Itu, ia juga membaca buku tentang teori-teori Perang Pasifik yang berjudul Seapower in The pacific karya seorang ahli maritim berkebangsaan Inggris, Hektor Baywater. Juga buku Geopolitik des Pazifischen Ozeans karya Karl Haushofer dari Universitas Munchen, Jerman.
Selain ‘kutu buku’, Soekarno juga orang yang gemar menulis. Terbukti beberapa artikel yang dihasilkan Soekarno berpengaruh besar pada saat melawan penjajahan.  Diantaranya adalah artikel politik yang ditulis untuk melawan kolonialisme Belanda dan dimuat di surat kabar Oetoesan Hindia. Selain itu, ia juga pernah menulis artikel yang berjudul “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” yang dimuat dalam surat kabar Suluh Indonesia Muda.
Kegiatan membaca dan menulis memang tidak bisa dipisahkan dari diri Soekarno. Ia adalah orang mempunyai tradisi intelektual yang kuat. Terbukti dengan membaca dan menulis, Soekarno mampu menjadi orang yang berpengaruh di dunia.
Dengan adanya bulan Soekarno, menjadi saat yang tepat untuk kembali menyulut semangat belajar anak bangsa. Semoga kita, juga bangsa ini menjadi bangsa yang berkarakter dan mempunyai tradisi intelektual yang kuat. Semoga![]


Dimuat di SKH Kedaulatan Rakyat,  26 Juni 2012

Monday, December 31, 2012

Inovasi Pembelajaran di Pesantren

DALAM konteks pendidikan, baik formal maupun nonformal, keberadaan perpustakaan menempati posisi strategis dalam meningkatkan kualitas intelektual masyarakat terlebih di era modern seperti sekarang ini. Di dunia pesantren, keberadaan perpustakaan sebenarnya berfungsi sebagai sumber dan sarana pembelajaran yang efektif untuk menambah wawasan dan pengetahuan para santri dengan ragam bacaan yang ada. Tersedianya beragam bacaan di perpustakaan, memungkinkan setiap santri memilih bahan bacaan yang sesuai dengan minat, hobi dan informasi lain yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Ironinya, meskipun perpustakaan dinilai penting, masih minim sekali pondok pesantren yang mau memanfaatkan dan melibatkan perpustakaan dalam proses pembelajaran para santri.

Rekaman sejarah membuktikan bahwa Islam pernah berada pada masa keemasan salah satunya karena keberadaan perpustakaannya. Pada zaman Khalifah Harun al-Rosyid berdiri Khizanah Alhikmah yang berfungsi sebagai perpustakaan serta menjadi pusat ilmu pengetahuan dan pusat pembelajaran. Pada masa kholifah Almakmun, Khizanah Alhikmah diubah menjadi Baitul Hikmah. Pada masa ini fungsi Baitul Hikmah ditingkatkan lagi menjadi pusat kegiatan studi, riset astronomi dan matematika.

Jika kita cermati lebih lanjut, sistem pembelajaran di beberapa pesantren masih tersentral pada sosok kiai, sementara perpustakaan yang notabene sebagai salah satu sarana pembelajaran masih dinomorsepatukan. Hal ini bisa kita lihat pada kondisi perpustakaan di pesantren pada umumnya. Beberapa pesantren masih ada yang belum mempunyai perpustakaan, kalau pun ada kondisinya tidak terawat layaknya gudang.

Sistem pembelajaran di pesantren tentu akan berjalan lebih maksimal jika memadukan pembelajaran secara langsung oleh kiai dan perpustakaan. Sistem pembelajaran ini disebut sebagai model pembelajaran berbasis perpustakaan (library- based learning). Pembelajaran berbasis perpustakaan adalah sebuah model pembelajaran dan perpustakaan merupakan satu kesatuan dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran ini meletakkan perpustakaan sebagai sumber dan pembelajaran bagi santri dan kiai. Adapun kompetensi yang akan dicapai adalah literasi informasi (information literacy) yaitu sebuah kemampuan dalam mengelola dan mengomunikasikan informasi, lebih sekedar dari mampu baca tulis dan berhitung (calistung).

Jika selama ini kebanyakan santri masih kental dengan budaya menghafal apa yang telah disampaikan oleh kiai, maka model pembelajaran ini menjadikan santri semakin berwawasan luas serta kritis terhadap perkembangan zaman. Santri tetap mendapatkan keteladanan dari sosok kiai, juga bisa mempunyai wawasan luas yang nantinya sangat berguna bagi mereka saat terjun di masyarakat.

Perpustakaan pesantren bisa menyediakan bahan bacaan pengayaan, misalnya buku-buku pertanian, kesehatan, teknologi, dan pengetahuan umum lainnya. Hal ini tentunya akan sangat berguna bagi para santri. Sehingga nantinya ilmu agama yang dipelajari di pesantren juga diimbangi dengan pengetahuan umum.

Selain menyediakan bahan bacaan, perpustakaan pesantren bisa melengkapinya dengan kegiatan tulis-menulis (jurnalistik). Kegiatan tulis-menulis ini kiranya menjadi bagian yang penting di dalam pesantren. Pasalnya, banyak sekali ide maupun pemikiran-pemikiran yang bisa dilestarikan melalui tulisan.

Jika dicermati lebih lanjut, tradisi tulis-menulis terbilang masih sangat lemah di pesantren. Padahal, kegiatan ini adalah salah satu tradisi ilmiah yang dimiliki ilmuan muslim pada zaman dahulu. Misalnya, Ibnu Sina, Ibn Rusyd, Alkhowarizmi, Imam Bukhori, Imam Muslim, dan tokoh-tokoh besar Islam lainnya. Di Indonesia, juga sangat banyak sekali ulama yang mempunyai tradisi tulis- menulis yang kuat, misalnya Syeikh Muhammad Arsyad Albanjari, Syeikh Yusuf Almakassary, Syeikh Hasyim Asy'ari, dan masih banyak lagi.

Sebagai seorang santri yang kaya akan pengetahuan Islam, tentu harus mampu meneruskan tradisi ilmiah yang telah dicontohkan para ulama terdahulu. Untuk itu, tentu santri harus mempunyai kemampuan tulis menulis sebagai salah satu syarat untuk meneruskan tongkat estafet pemikiran Islam di masa mendatang.

Dengan adanya kegiatan tulis menulis ini tentu akan menjadikan para santri aktif dan lebih terdorong untuk mau menggunakan perpustakaan guna mencari sumber referensi. Selain itu, rasanya akan semakin lengkap jika para kiai maupun guru bantu di pesantren mau mengoneksikan materi pembelajaran yang disampaikan dengan sumber-sumber pendukung yang ada di perpustakaan.

Dengan adanya konsep library- based learning di pesantren, semoga proses pembelajaran bisa berjalan lebih maksimal serta mampu menjadikan para santri menjadi insan yang berwawasan luas, bermoral, kritis, dan berkahlak mulia serta mampu mengembalikan masa kejayaan Islam seperti zaman dahulu. Semoga!

Dimuat di Koran Galamedia 10 Desember 2012

Ketika Buku Menjadi Racun

’’BUKU adalah makanan bagi jiwa dan pikiran. Buku juga bagaikan obat bagi penyakit yang mendera perasaan dan pikiran

manusia. Jika buku mengandung racun, jika buku dipalsukan, akan timbul bahaya kerusakan yang sangat besar’’, demikian Ali Syariati mengemukakan peran penting buku.

Buku adalah alat ilmiah dalam dunia pendidikan. Selama ini buku menjadi sarana pembelajaran yang belum tergantikan oleh apa pun. Buku dan proses pembelajaran ibarat dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan. Buku akan menjadi bermanfaat jika digunakan untuk belajar, sedangkan proses pembelajaran pun akan berjalan dengan maksimal jika ada buku.

Dewasa ini, pencorengan dunia pendidikan kembali terjadi. Fenomena ini diwarnai dengan beredarnya buku Lembar Kerja Siswa (LKS) yang menceritakan tentang kisah ’’Bang Maman dari Kali Pasir’’ yang mengandung cerita istri simpanan. Ironisnya, cerita pada buku LKS ini diperuntukan kepada anak-anak kelas 2 SD, di mana saat usia anak mulai belajar membaca dan memahami realita kehidupan. Apa yang mereka baca akan berdampak pada perilaku mereka sehari-hari.

Jika kita merujuk pada apa yang diungkapkan Ali Syariati, cerita Bang Maman bukan hanya sebuah racun mematikan bagi moral generasi penerus bangsa, tetapi juga menjadi gambaran sejauh mana kondisi pendidikan di Indonesia.

Selektif Memilih Buku

Sebagaimana kita ketahui, buku adalah jendela dunia, juga sebuah samudera ilmu pengetahuan. Dengan menyelaminya, kita akan mendapatkan hal-hal baru yang belum pernah kita temui sebelumnya. Buku juga sebuah portal untuk memasuki dunia lain di mana kita tidak perlu susah payah datang langsung ke tempat aslinya. Dalam sejarah,  keberadaan buku mendapatkan penghormatan yang sangat mulia. sebagaimana dikatakan oleh Syekh Az-Zarnuji bahwa ’’sebagian dari memuliakan ilmu adalah dengan memuliakan buku’’. Sebuah ungkapan sederhana namun sarat makna jika dikaji lebih dalam.

Barbara Tuchman mengatakan, buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, mercusuar yang dipancangkan di samudera waktu. Dan seorang teolog Denmark, Thomas V Batholin, menambahkan, tanpa buku Tuhan diam, keadilan terbenam, sains alam macet, sastra bisu, dan seluruhnya dirundung kegelapan. Karena dengan buku, kepribadian seseorang bisa terbentuk, dan karena buku pula, peradaban suatu bangsa akan tercipta.

Baik pihak sekolah maupun pemerintah harus saling membahu mengevaluasi isi buku-buku yang diperuntukan bagi siswa. Misalnya buku- buku untuk anak usia 5-8 tahun haruslah buku yang mempunyai nilai-nilai moral yang kuat, misalnya tentang pentingnya persahabatan. Buku tentang persahabatan jauh lebih penting dari pada buku tentang istri simpanan. Buku-buku tersebut akan jauh lebih menarik jika disajikan dalam bentuk picture books (buku bergambar) dan easy-to-read books (buku yang mudah dibaca).

Krisis Moral

Undang-Undang No 20 Tahun 2003 pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) menjelaskan bahwa fungsi pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa yang berakhlak mulia. Namun sekali lagi fungsi ini tampak belum berjalan sebagaimana mestinya. Krisis moralitas dan intelektualitas masih terus mewarnai dinamika pendidikan bangsa ini. Mulai dari aksi tawuran antarsiswa hingga guru yang melakukan aksi kekerasan terhadap muridnya.

Indonesia adalah bangsa yang besar serta kaya akan sejarah dan kekayaan alam yang melimpah ruah. Selain itu, Indonesia mempunyai adat istiadat, bahasa dan agama yang beraneka ragam. Nilai-nilai luhur bangsa seperti ini lah yang seharusnya dimiliki dunia pendidikan kita.

Nilai-nilai luhur bangsa akan jauh lebih bermanfaat ketimbang cerita ’’Bang Maman dari Kali Pasir’’. Karena bagaimanapun, cerita ’’Bang Maman dari Kali Pasir’’ adalah bentuk dari kemiskinan intelektualitas bangsa ini yang harus dibuang jauh-jauh.

Sebagai langkah awal untuk menanamkan nilai-nilai luhur bangsa adalah melalui buku. Sekali lagi, buku menjadi sarana yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai luhur bangsa. Langkah ini harus diikuti oleh para guru untuk gemar membaca. Bukan hanya seruan belaka untuk gemar membaca, melainkan disertai dengan langkah nyata.

Sebagaimana pepatah Indonesia mengatakan ’’guru kencing berdiri, murid kencing berlari’’. Jika seorang guru yang tidak suka membaca memberi perintah kepada siswa untuk gemar membaca, bagaimana hal ini bisa terlaksana? Seorang guru yang baik akan memberi teladan baik bagi muridnya, beti pula sebalinya, guru yang tidak baik akan memberikan teladan yang tidak baik.

Pendek kata, guru adalah panutan siswa. Untuk itu, seorang guru harus banyak membaca.

Selain memberi contoh kepada siswa, juga agar mengetahui isi buku yang tepat untuk dibaca siswa. Memberi contoh kongkret adalah langkah yang sangat berguna bagi siswa, karena dengan dimuali dari pribadi guru yang gemar membaca akan membentuk karakter siswa untuk cinta baca, sehingga mereka nantinya akan tumbuh jadi pribadi yang bijaksana.

Berkaitan dengan itu, seorang cerpenis dan novelis Austria, Franz Kafka, mengatakan, buku harus menjadi kampak untuk menghancurkan lautan beku di dalam diri kita.

Dimuat di Koran Suara Merdeka 05 Mei 2012

Memaksimalkan Perpustakaan


MEI kemarin, dikenal sebagai bulan buku. Ada beberapa hari penting di bulan Mei, di antaranya tanggal 17 Mei yang diperingati sebagai Hari Jadi Perpustakaan Nasional (Perpusnas) sekaligus Hari Buku Nasional. Hari Jadi Perpusnas kali pertama diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef pada tahun 1980.

Selanjutnya pada tanggal yang sama, Menteri Pendidikan Nasional Abdul Malik Fajar meresmikan Hari Buku Nasional atas ide dari masyarakat perbukuan guna memacu minat baca masyarakat Indonesia. Sekaligus menaikkan penjualan buku di Indonesia. Pada hakikatnya, buku dan perpustakaan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, karena bagaimanapun keberdaan perpustakaan tidak bisa dilepaskan dari buku-buku pengetahuan.

Keduanya sama-sama mempunyai peran yang fital dalam proses pembelajaran. Berdasarkan UU No. 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan pasal 3 menjelaskan bahwa fungsi Perpustakaan sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Ironinya, pemahaman seperti ini masih sangat dangkal. Akibatnya, perpustakaan masih saja dijadikan sebagai gudang buku, bahkan dianggap tempat pembuangan orang bermasalah.

Sekolah tanpa perpustakaan ibarat sebuah raga tanpa jantung. Di dalam perpustakaan, seorang siswa bisa mempelajari apa saja yang diinginkan. Pengetahuan baik yang dijarakan di bangku sekolah maupun tidak, semuanya ada di perpustakaan.

Dengan adanya perpustakaan, proses pembelajaran bisa berjalan secara maksimal. Maka tidak heran jika perpustakaan disebut sebagai pusat pembelajaran (learning center). Seorang guru harus mampu mendorong siswanya untuk mau memanfaatkan perpustakaan. Misalnya dengan menjadwalkan jam kunjung perpustakaan satu jam setiap minggu.

Selain itu, seorang guru juga harus mampu mengintegrasikan mata pelajaran dengan sumber-sumber buku pengetahuan di perpustakaan. Untuk melaksanakan ini semua, seorang guru bisa bekerjasama dengan pustakawan sekolah agar mendapatkan hasil maksimal. Seharusnya perpustakaan menyediakan tempat yang nyaman dan kondusif untuk belajar.

Dengan begitu siswa yang berkunjung ke perpustakaan menjadi kerasan dan serasa di dalam taman yang dipenuhi bermacam-macam bunga, yaitu buku. Desain perpustakaan yang menarik tentu menjadikan siswa lebih termotivasi untung datang ke perpustakaan.

Dengan demikian, tujuan perpustakaan sebagaiaman tertera dalam UU No. 43 tahun 2007 pasal 4 dapat berjalan sebagai mestinya, yaitu untuk meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dengan diperingati Hari Buku Nasional dan Hari Jadi Perpusnas, 17 Mei, menjadi saat yang tepat untuk memaksimalkan fungsi perpustakaan, yaitu untuk meningkatkan minat baca dan sebagai pusat pemebalajaran (learning center). Semoga!

Dimuat di Koran Suara Merdeka 11 Juni 2012